Saat kecil ditanya mau jadi apa, apa jawabanmu?
Sejak pertama kali ditanya seperti itu, sampai kelas 2 SMA mungkin, jawabanku selalu sama. Aku ingin jadi guru. Seperti papa. Seperti om dan tanteku.
Aku ingin jadi guru matematika, jawabku lebih spesifik. Pelajaran yang tidak pernah membosankan menurutku. Aku ingin seperti Pak Sodiq, yang mengantarku lomba MIPA SD ke Surabaya bersama temanku. Aku membawa pulang piala saat itu, yang duplikatnya –sudah pecah sekarang- masih kusimpan di lemariku. Seperti Bu Ummi, yang meskipun guru-guru –dan teman juga- meragukan kemampuanku, mengantarkanku lomba matematika SMP se-Kediri. Kupersembahkan piala tertinggi saat itu. Terima kasih atas kepercayaanmu, Bu. Seperti Bu Arta, Bu Murti, dan Bu Endang yang menemukan ‘bakat terpendam’ ku di SMA. Maaf tidak bisa membawakan piala pulang saat ke Surabaya. Tapi aku bangga pernah menjadi murid kalian. Untuk kalian semua, kupersembahkan nilai sempurna di setiap Ujian Nasional ku. Terima kasih, terima kasih.
Tak perlulah ditanya mengapa aku begitu tertarik pada pelajaran yang satu ini. Hanya membuatku rindu saja. Rindu bermain-main dengan angka. Tak perlu juga ditanya, mengapa cita-cita yang telah diimpikan sejak kecil berubah tiba-tiba. Pengaruh ke’ababil’an kah? Hahaha. Semoga tidak.
Entah kapan aku mulai menyadarinya, tapi kemudian aku merasa kalau menjadi guru bukan bakatku. Aku tidak pandai ngomong dan tidak terlalu suka tampil di depan banyak orang. Selain itu, aku takut, takut sekali, kalau seandainya aku benar mengambil kuliah matematika, akhirnya aku bosan, dan mogok kuliah. Bosan?? Of course!! Setelah sekian lama mencintainya, aku takut bosan padanya. Oh no..lalu aku mau jadi apa??
Di tengah kegalauan itu, muncullah pengumuman untuk pendaftaran Olimpiade Farmasi dari Universitas Airlangga (masih kelas 2 SMA kayaknya). Berkelompok, 3 orang. Dulu siapa ya, yang ngajak buat ikutan? Hmmm..sudah lupa. tapi akhirnya daftar juga, meskipun modal di otak pas-pasan. Haha
Menang?? Enggak lah. Emangnya kita batu! (lhah?). Tapi dari situlah aku mulai mengenal farmasi. Ada sesi saat panitia -yang notabene adalah mahasiswa farmasi- mendemonstrasikan cara membungkus puyer. Hmmm..sepertinya asik sekali. Ah, tapi saat itu aku merasa bahwa ketertarikanku saat itu hanya salah satu ke’ababil’anku saja. Beberapa hari lagi juga lupa.
Then, aku mau jadi apa donk? Kata temenku, “kamu jadi dokter aja Put”. “Enggak mau!!”, kubilang (aku tidak suka dokter dengan alasan yang tidak bisa dijelaskan). Haha. I,m sorry, I’m sorry.. tapi sebetulnya aku senang kalau berurusan dengan masalah2 kesehatan. Tapi aku gak mau jadi dokter. Perawat?? Apa lagi!! Bidan?? No no no no no. Ngek ngok
Sempet berpikir mau kuliah di STIS aja, belajar statistik. Gak jauh2 dari angka juga kan. Pasti aku senang. Hmmm.. Simbok juga sudah menyetujui rencana yang ini. Hoho
Then, kelas 3 semester 2. Banyak tawaran PMDK yang masuk ke sekolah. Pengen nyoba, tapi kata guru BK, kalo nggak bener2 minat, jangan coba2!! Huhu. Enggak jadi deh..
Lalu datanglah pengumuman pendaftaran UM UGM. Wah, kayaknya seru nih. Nyoba ah.. kata Simbok gak apa2 kok. Hho.. terus, pilih jurusan apa donk? Statistik? Hmm..itu pilihan kedua aja deh. Belum mantep di hati. Lha pilihan pertama apa? Apa? Apa? Lalu ada teman bercerita tentang kakaknya yang kuliah di farmasi UGM. Kok tiba2 aku pengen ya? Terus inget kejadian pas Olimpiade Farmasi dulu. Hmm.. farmasi kayaknya seru. Bidang kesehatan, tapi bukan dokter. Boleh juga nih. Tanya Simbok, beliau kaget. Kok bisa? Bukan karena ikut2an teman kan? Tanya Simbok. Bukan donk.. suara hati nih, Mbok.. wohohoho
Walhasil, di sinilah saya sekarang. Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Keputusan yang tidak pernah kusesali. Aku berpisah dengan matematika yang kusayangi. Hikz..tapi tak mengapa, karena rasa sayang itu masih ada dalam hatiku sampai detik ini, berdampingan dengan rasa sayangku pada farmasi. Lebay..
Farmasi..farmasi..tidak terasa (terasa banget ding, kalo Simbok bilang), aku sudah berada hampir di penghujung tahun keempatku di kampus ini. Tingkat akhir. Pertanyaan seputar skripsi dan wisuda berputar-putar di sekelilingku. Teruslah menanyakan hal itu, kawan! Sampai aku bosan, sampai aku menyelesaikannya, hingga kau tak perlu lagi bertanya.
Apa lagi impianku kali ini?
Di akhir semester yang galau ini, aku bertekad mempersembahkan IP sempurna di KHS ku. Bukan untuk siapa2. Ini untuk diriku sendiri. Penghujung yang manis, semoga..
Lalu, apa lagi yang kuinginkan?
Kuliah profesi, tentu saja. Mendapatkan gelar apoteker setahun kemudian. IP cumlaude? Harus bisa!
Udah jadi apoteker, mau ngapain lagi?
Kerja! Atau nikah dulu ya? Hmm.. >_<
Karena sekarang belum ada yang ngajuin proposal, berarti keputusan sementara adalah kerja dulu. Perihal nanti di tengah jalan ada proposal masuk, itu bukan masalah. Prioritas dapat diubah, asalkan tak ada yang tertinggal. Hoho
Mau kerja dimana?
Rumah sakit dulu deh kayaknya. Tapi di puskesmas atau klinik juga tak masalah. Apotek? Boleh juga. Tapi lebih prefer ke rumah sakit deh, kayaknya. Lebih banyak orang di sana. Nambah2 relasi tuh. Nambah referensi juga sih.. hahaha
Lokasi?
Nah, yang ini tergantung.
Kalo aku kerjanya pas belum nikah, aku maunya di Kediri dan sekitarnya aja. Aku pengen tinggal di rumah, menemani Simbok. Kalau dapet tawaran kerjanya di luar Kediri? Ah, itu kita pikirkan nanti! Haha
Nah, kalo aku kerjanya setelah menikah, keinginanku gampang saja. Aku mau ikut suamiku. Kemana saja boleh. Asalkan masih di bumi Allah, tak jadi masalah buatku. Asalkan ada dia di sampingku, aku rasa aku tak akan kesepian. Toh, seperti jodoh, rejeki tak lari kemana. Hha..
Lalu kalo aku ikut suami, Simbok gimana donk?? Huhu. Gak tega ninggalin Simbok sendirian.
Hha..begini saja. Aku berdoa supaya kakakku dapet jodoh orang kediri. Nanti kalo udah nikah, mereka tinggal di rumahku aja, biar Simbok gak kesepian. (egois deh..)
Tapi sepertinya aku lebih senang kalo Simbok nanti ikut tinggal bersamaku meski aku udah nikah. Simbok mau nggak ya? Suamiku ngebolehin nggak ya? Hehe
Nah, kalo suami pengennya yang kayak apa?? (yg ini dibahas lain kali aja ya. Kebanyakan ntar.. :P)
Sudah kerja, sudah nikah. Mau apa lagi?
Mengabdi pada suami donk..^^ Pokoknya suamiku harus kubahagiakan..
Hoho
Pengen punya anak (pasti lah ya..). pengen sekolah S2 (kalo liat situasi di masa mendatang, kira2 aku masih pengen nggak ya?)
Akhirnya..aku pengen yang happily ever after. Mungkinkah? Harus!! Kebahagiaan bukanlah pilihan. Kebahagiaan adalah keharusan!
Akan kumulai mewujudkan mimpi2ku ini. Sekarang. Aku tahu aku harus selalu memperbaiki diri, agar Allah memantaskan aku untuk mimpi2ku itu. Just do it! Now or never!
Then, what are you dreaming, guys? ^^