Minggu, 15 Mei 2011

Untuk Sebuah Mimpi

untuk sebuah mimpi yang aku miliki
untuk sebuah mimpi yang aku ingini
untuk sebuah mimpi yang tak boleh menjadi hanya sekedar mimpi

untuk sebuah mimpi yang tidak pernah aku tanggalkan
untuk sebuah mimpi yang aku perjuangkan
untuk sebuah mimpi yang penuh pengharapan

akan menjadi tak berarti bila aku berhenti
akan menjadi sia-sia bila tak ku perjuangkan
dan HANYA akan menjadi sebuah mimpi bila aku menyerah

hei kawan, lihat, aku tak akan berhenti disini
aku tak akan kalah oleh kesukaran ini
aku akan bersabar atas perjuangan ini

karena aku berani bermimpi
karena aku berani memperjuangkannya
karena aku berani mewujudkannya
karena aku berani
untuk sebuah mimpi












Rizki Fajar Rahayu, 2011
mari kita berbagi mimpi
"bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu"
nanti, nanti kita akan tersenyum, saat kita sudah berada di puncak, dan melihat ke bawah, ke jalan berliku yang telah kita lalui.
saat itu tiba, kita akan membuat mimpi-mimpi lagi. kita akan menggapai puncak lain, yang lebih tinggi.
mari terus berjuang dan tetap percaya
"tak ada doa, usaha dan air mata yang sia-sia...semuanya pasti bermakna.." (dosen saya yang cantik jelita, 2011)

percayalah, 
berat ini hanya sebentar saja
jangan menyerah,
walaupun tak mudah meraihnya.

tetap tersenyumlah,
biar semakin mudah,
 karena kesedihan pun,
ternyata hanya sementara
-ipank, teruslah bermimpi-

Sabar dan Ikhlas

satu kata sifat aja beratnya bukan main aplikasinya, apalagi dua?!
ah, tapi berat bukan berarti tidak bisa kan..?

coba saja sedikit-sedikit
nanti juga terbiasa..
bukankah yang berat-berat ini lebih menantang untuk ditaklukkan??

just take deep breathing, and keep smiling. then everything will be okay

janji Allah sudah jelas. tak sekali pun aku meragukannya.
setelah kesulitan ini, akan datang kemudahan
kesulitan-kesulitan ini, tidak akan pernah lebih besar dari kemampuan kita

Subhanallah, indah sekali cara Allah mengabulkan doa
aku meminta diberi kesabaran dan keikhlasan
lalu Allah memberiku masalah, agar dengannya aku belajar kesabaran dan keikhlasan
maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan??

Allah, hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan..
semoga semua yang Kau berikan padaku, membuatku lebih dekat denganMu
terima kasih Allah, Engkau tidak pernah melupakanku

"Terkadang hidup memang berat, membuat kita hampir menyerah. Tapi aku percaya, Kaulah pelindungku, penciptaku, dan hidupku.
Sabarkan hatiku, kuatkan imanku. Berkahi aku dan keluargaku dengan rahmatMu.
Tuhan, Kaulah cintaku."


Rabu, 11 Mei 2011

Jikalah..

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak dinikmati saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.



Suatu hari nanti,
Saat semua telah menjadi masa lalu
Aku ingin ada di antara mereka
Yang bertelekan di atas permadani
Sambil bercengkerama dengan tetangganya
Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu
Hingga mereka mendapat anugerah itu.

(Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita,
namun aku tetap berusaha senantiasa bersyukur dan bersabar.
Dan ternyata, derita itu hanya sekejap saja dan cuma seujung kuku,
di banding segala nikmat yang kuterima di sini)-

(Wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi,
namun aku bertobat dan tak mengulang lagi hingga maut menghampiri.
Dan ternyata, ampunan-Nya seluas alamraya, hingga sekarang aku berbahagia)]

Suatu hari nanti
Ketika semua telah menjadi masa lalu
Aku tak ingin ada di antara mereka
Yang berpeluh darah dan berkeluh kesah:Andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.

(Duhai! harta yang dahulu kukumpulkan sepenuh raga,
ilmu yang kukejar setinggilangit,
kini hanyalah masa lalu yang tak berarti.
Mengapa dulu tak kubuat menjadi amal jariah yang dapat menyelamatkanku kini?)-

(Duhai! nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani,
ternyata hanya sekejap saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini.
Mengapa aku dulu tak sanggup bersabar meski hanya sedikit jua?)

-lentera hati-

Minggu, 10 April 2011

kapan ya??

di tengah kegalauan merekap data pasien,
galau gara2 kesepian
galau gara2 kangen rumah. kangen simbok especially..
and then gaya2an berpusi
ceileeeee

jadi mikir, kapan ya terakhir kali bikin puisi?
hahaha
menulis saja susah, apalagi bikin puisi...

susah bukan berarti nggak bisa kan ya?
bangga nih, udah pernah bikin puisi :D
yaaa, walaupun seringnya gara2 ada tugas Bahasa Indonesia
eh, pernah juga ding, bikin puisi untuk tugas Seni Musik
puisi guwe dijadiin lirik lagu loh... ::tepuk dada
wakakaka

oh, yaaa. seringnya bikin puisi pas akhir bulan Ramadhan
puisi Idul Fitri
buat send to all via sms
dan selalu senang menerima balasan sms nya
mulai dari yang sekedar bilang "sama-sama"
sampai yang balik mengirimkan puisi untuk saya :D

well, menulis puisi tidak semudah yang dibayangkan, ternyata..
butuh stressor psikososial yang cukup kuat
apalagi untuk seorang saya yang tidak punya kepribadian premorbid  sebagai seorang pujangga
yaa, stressor tugas sekolah memang punya pengaruh cukup kuat
pun dengan kebutuhan untuk memohon maaf kepada semua orang di hari Fitri itu..

saya tidak menyangka, kerinduan saya malam ini bakal menjadi stressor buat saya
hahaha
kapan lagi ya, saya punya stressor kayak gini?

ehem.. setelah saya pikir2 -lagi-
puisi2 yang saya bikin gak ada yang nyeritain cinta2an
you know lah, cinta2an ama cowok..
hahaha
ternyata pengalaman cinta saya tidak cukup memberikan stressor untuk saya berpuisi
ah, cinta macam apa itu?? :P
*cinta tembeyan kali ya..

puisi saya kebanyakan -hampir semua, malah- bercerita tentang persahabatan
dan yang terakhir saya buat, itu tentang simbok saya
kata guru Bahasa Indonesia, saya berbakat nulis puisi buat anak-anak
well, saya anggap ini pujian
terima kasih Buk.. hahaha

then, sekarang saya pingin berpuisi lagi
puisi tentang cinta..yang dewasa
*bukan piyik, bukan tembeyan, tapi babon
tapi untuk itu, saya butuh jatuh
bukan sekedar jatuh
saya ingin jatuh jauh ke dalam, dan tidak pernah berhenti
untuk itu saya perlu hati yang tepat. hati yang akan membuat saya selalu jatuh



semoga waktu itu segera datang
karena saya sungguh ingin berpuisi lagi..

*terkadang saya merasa keinginan saya yang satu ini bertentangan doa-doa saya tiap malam
"Allah, jagalah hati saya agar tidak jatuh pada hati saya. Jagalah hati saya untuknya, yang sudah kau sandingkan namanya untuk saya, bahkan sebelum kami berdua dilahirkan. Allah, jangan biarkan saya jatuh terlalu cepat, jika memang waktunya belum tepat. Jadikan kami selalu hambaMu yang senantiasa memperbaiki diri, agar kami benar-benar siap saat hati-hati kami kelak dipertemukan. Sungguh kami ingin bertemu dalam ridhoMu, Ya Allah.."

Allah, apakah saya egois, meminta agar hati itu segera datang?
Ampuni saya, Allah..
saya tahu Engkau telah mempersiapkan hati terbaik untuk saya
"maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?"




-rekap datanya belom selesai. dilanjut nanti deh! hehehe-

I need your smile..

aku rindu..
teh panas buatanmu 
yang selalu menemaniku 
saat ku terjaga terlalu dini

aku rindu..
masakanmu tiap pagi
yang harus selalu kuhabiskan
atau kau tidak akan mengizinkanku berangkat sekolah

aku rindu..
mencium tanganku
sembari mendengarkan kalimat patenmu setiap pagi
"ati-ati, gak usah ngebut"

dan kalimat spesial setiap aku berangkat ujian
"dipikir sek, dieling-eling, gak usah kesusu"

aku rindu..
menghabiskan malam berdua
hanya bersamamu

tapi pasti kau tahu, bertiga akan jadi lebih berwarna
aku juga merindukan kebertigaan kita

apalagi berempat..
ah, tapi yang ini tak mungkin lagi sekarang

aku rindu..
berdua-dua menyusuri jalan
bergandengan tangan
menghabiskan malam minggu yang panjang

I need your smile
because

"Sometimes I wanna give up
I wanna give in,
I wanna quit the fight"



I need your smile
"And everything's alright,
everything's alright

When I see you smile
I can face the world, oh oh,
you know I can do anything
When I see you smile
I see a ray of light, oh oh,
I see it shining right through the rain
When I see you smile"


Selasa, 15 Maret 2011

My Dreams..

Saat kecil ditanya mau jadi apa, apa jawabanmu?

Sejak pertama kali ditanya seperti itu, sampai kelas 2 SMA mungkin, jawabanku selalu sama. Aku ingin jadi guru. Seperti papa. Seperti om dan tanteku.
Aku ingin jadi guru matematika, jawabku lebih spesifik. Pelajaran yang tidak pernah membosankan menurutku. Aku ingin seperti Pak Sodiq, yang mengantarku lomba MIPA SD ke Surabaya bersama temanku. Aku membawa pulang piala saat itu, yang duplikatnya –sudah pecah sekarang- masih kusimpan di lemariku. Seperti Bu Ummi, yang meskipun guru-guru –dan teman juga- meragukan kemampuanku, mengantarkanku lomba matematika SMP se-Kediri. Kupersembahkan piala tertinggi saat itu. Terima kasih atas kepercayaanmu, Bu. Seperti Bu Arta, Bu Murti, dan Bu Endang yang menemukan ‘bakat terpendam’ ku di SMA. Maaf tidak bisa membawakan piala pulang saat ke Surabaya. Tapi aku bangga pernah menjadi murid kalian. Untuk kalian semua, kupersembahkan nilai sempurna di setiap Ujian Nasional ku. Terima kasih, terima kasih.

Tak perlulah ditanya mengapa aku begitu tertarik pada pelajaran yang satu ini. Hanya membuatku rindu saja. Rindu bermain-main dengan angka. Tak perlu juga ditanya, mengapa cita-cita yang telah diimpikan sejak kecil berubah tiba-tiba. Pengaruh ke’ababil’an kah? Hahaha. Semoga tidak.

Entah kapan aku mulai menyadarinya, tapi kemudian aku merasa kalau menjadi guru bukan bakatku. Aku tidak pandai ngomong dan tidak terlalu suka tampil di depan banyak orang. Selain itu, aku takut, takut sekali, kalau seandainya aku benar mengambil kuliah matematika, akhirnya aku bosan, dan mogok kuliah. Bosan?? Of course!! Setelah sekian lama mencintainya, aku takut bosan padanya. Oh no..lalu aku mau jadi apa??

Di tengah kegalauan itu, muncullah pengumuman untuk pendaftaran Olimpiade Farmasi dari Universitas Airlangga (masih kelas 2 SMA kayaknya). Berkelompok, 3 orang. Dulu siapa ya, yang ngajak buat ikutan? Hmmm..sudah lupa. tapi akhirnya daftar juga, meskipun modal di otak pas-pasan. Haha
Menang?? Enggak lah. Emangnya kita batu! (lhah?). Tapi dari situlah aku mulai mengenal farmasi. Ada sesi saat panitia -yang notabene adalah mahasiswa farmasi- mendemonstrasikan cara membungkus puyer. Hmmm..sepertinya asik sekali. Ah, tapi saat itu aku merasa bahwa ketertarikanku saat itu hanya salah satu ke’ababil’anku saja. Beberapa hari lagi juga lupa.

Then, aku mau jadi apa donk? Kata temenku, “kamu jadi dokter aja Put”. “Enggak mau!!”, kubilang (aku tidak suka dokter dengan alasan yang tidak bisa dijelaskan). Haha. I,m sorry, I’m sorry.. tapi sebetulnya aku senang kalau berurusan dengan masalah2 kesehatan. Tapi aku gak mau jadi dokter. Perawat?? Apa lagi!! Bidan?? No no no no no. Ngek ngok
Sempet berpikir mau kuliah di STIS aja, belajar statistik. Gak jauh2 dari angka juga kan. Pasti aku senang. Hmmm.. Simbok juga sudah menyetujui rencana yang ini. Hoho

Then, kelas 3 semester 2. Banyak tawaran PMDK yang masuk ke sekolah. Pengen nyoba, tapi kata guru BK, kalo nggak bener2 minat, jangan coba2!! Huhu. Enggak jadi deh..
Lalu datanglah pengumuman pendaftaran UM UGM. Wah, kayaknya seru nih. Nyoba ah.. kata Simbok gak apa2 kok. Hho.. terus, pilih jurusan apa donk? Statistik? Hmm..itu pilihan kedua aja deh. Belum mantep di hati. Lha pilihan pertama apa? Apa? Apa? Lalu ada teman bercerita tentang kakaknya yang kuliah di farmasi UGM. Kok tiba2 aku pengen ya? Terus inget kejadian pas Olimpiade Farmasi dulu. Hmm.. farmasi kayaknya seru. Bidang kesehatan, tapi bukan dokter. Boleh juga nih. Tanya Simbok, beliau kaget. Kok bisa? Bukan karena ikut2an teman kan? Tanya Simbok. Bukan donk.. suara hati nih, Mbok.. wohohoho

Walhasil, di sinilah saya sekarang. Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Keputusan yang tidak pernah kusesali. Aku berpisah dengan matematika yang kusayangi. Hikz..tapi tak mengapa, karena rasa sayang itu masih ada dalam hatiku sampai detik ini, berdampingan dengan rasa sayangku pada farmasi. Lebay..

Farmasi..farmasi..tidak terasa (terasa banget ding, kalo Simbok bilang), aku sudah berada hampir di penghujung tahun keempatku di kampus ini. Tingkat akhir. Pertanyaan seputar skripsi dan wisuda berputar-putar di sekelilingku. Teruslah menanyakan hal itu, kawan! Sampai aku bosan, sampai aku menyelesaikannya, hingga kau tak perlu lagi bertanya.

Apa lagi impianku kali ini?
Di akhir semester yang galau ini, aku bertekad mempersembahkan IP sempurna di KHS ku. Bukan untuk siapa2. Ini untuk diriku sendiri. Penghujung yang manis, semoga..

Lalu, apa lagi yang kuinginkan?
Kuliah profesi, tentu saja. Mendapatkan gelar apoteker setahun kemudian. IP cumlaude? Harus bisa!
Udah jadi apoteker, mau ngapain lagi?

Kerja! Atau nikah dulu ya? Hmm.. >_<
Karena sekarang belum ada yang ngajuin proposal, berarti keputusan sementara adalah kerja dulu. Perihal nanti di tengah jalan ada proposal masuk, itu bukan masalah. Prioritas dapat diubah, asalkan tak ada yang tertinggal. Hoho

Mau kerja dimana?
Rumah sakit dulu deh kayaknya. Tapi di puskesmas atau klinik juga tak masalah. Apotek? Boleh juga. Tapi lebih prefer ke rumah sakit deh, kayaknya. Lebih banyak orang di sana. Nambah2 relasi tuh. Nambah referensi juga sih.. hahaha

Lokasi?
Nah, yang ini tergantung.
Kalo aku kerjanya pas belum nikah, aku maunya di Kediri dan sekitarnya aja. Aku pengen tinggal di rumah, menemani Simbok. Kalau dapet tawaran kerjanya di luar Kediri? Ah, itu kita pikirkan nanti! Haha

Nah, kalo aku kerjanya setelah menikah, keinginanku gampang saja. Aku mau ikut suamiku. Kemana saja boleh. Asalkan masih di bumi Allah, tak jadi masalah buatku. Asalkan ada dia di sampingku, aku rasa aku tak akan kesepian. Toh, seperti jodoh, rejeki tak lari kemana. Hha..
Lalu kalo aku ikut suami, Simbok gimana donk?? Huhu. Gak tega ninggalin Simbok sendirian.
Hha..begini saja. Aku berdoa supaya kakakku dapet jodoh orang kediri. Nanti kalo udah nikah, mereka tinggal di rumahku aja, biar Simbok gak kesepian. (egois deh..)
Tapi sepertinya aku lebih senang kalo Simbok nanti ikut tinggal bersamaku meski aku udah nikah. Simbok mau nggak ya? Suamiku ngebolehin nggak ya? Hehe

Nah, kalo suami pengennya yang kayak apa?? (yg ini dibahas lain kali aja ya. Kebanyakan ntar.. :P)

Sudah kerja, sudah nikah. Mau apa lagi?
Mengabdi pada suami donk..^^ Pokoknya suamiku harus kubahagiakan..
Hoho

Pengen punya anak (pasti lah ya..). pengen sekolah S2 (kalo liat situasi di masa mendatang, kira2 aku masih pengen nggak ya?)

Akhirnya..aku pengen yang happily ever after. Mungkinkah? Harus!! Kebahagiaan bukanlah pilihan. Kebahagiaan adalah keharusan!

Akan kumulai mewujudkan mimpi2ku ini. Sekarang. Aku tahu aku harus selalu memperbaiki diri, agar Allah memantaskan aku untuk mimpi2ku itu. Just do it! Now or never!
Then, what are you dreaming, guys? ^^